20 Tahun  Hotel Aryaduta, Dulu dan Kini

20 Tahun Hotel Aryaduta, Dulu dan Kini

1
608
0
Saturday, 13 February 2016
100% Makassar

Iwan R. Rachman – Langitku Networks

Hotel Arya Duta Makassar, makin dewasa dan matang. Ia menyimpan banyak cerita. Salah satunya, berganti nama dan kepemilikan. Dari Hotel Pesanggrahan, Sedona, Imperial Arya Duta hingga Arya Duta.

“Tamu yang pernah menggunakannya, antara lain presiden SBY, Megawati, Presiden Kamboja, Dubes As dan banyak nama penting lainnya,”

Ruang Le Bar Atelier,  Jumat petang, Januari 2016. Lagu Sweet Memories  mengalun indah, perlahan. Mengalun dari sebuah grand piano dan seorang penyanyi wanita. Suasana lounge yang menyatu dengan lagu yang dipopulerkan oleh Andy Wlliams paruh 1960-an itu, tiba-tiba saja menguak memori  seorang Kasrina Srijaya, Marketing & Promotion Manager, hotel Arya Duta, Makassar.

Menguak ke masa  yang berbeda-beda, Karin, sapaan akrabnya, tak terlalu sulit mengingat-ingat tentang Arya Duta, Imperial Arya Duta,Hotel Sedona dan Hotel Pesanggrahan. Dan, wanita kelahiran 21 April 1988, ini  membagi ingatannya atas empat hal:

Hotel Pesanggrahan

Tak banyak catatan yang menyimpan cerita tentang hotel ini, kecuali mungkin, sebagian warga kota Makassar mengingatnya sebagai gedung peninggalan masa kolonial Belanda, hampir 100-an tahun lampau. Sebelum bernama Hotel Sedona paruh awal 1990-an, gedung yang masuk sebagai salah satu cagar budaya kota Makassar ini dikenal sebagai Hotel Pesanggrahan. Manajemennya di tangan pemerintah provinsi (dulu: Pemda TK I) Sulawesi Selatan. Menurut catatan yang ada, gedung yang berhadapan langsung dengan pantai losari ini dulunya berfungsi sebagai tempat menginap tamu-tamu penting pemerintah kolonial, abad 17-18. Tak sembarang orang yang mendapat fasilitas seperti ini. Jika ‘orang biasa’, maka kata verboden-lah yang mengarah kepadanya.  Terkesan  angkuh, memang, seangkuh gaya arsitektur Eropa. Berdaun pintu-jendela yang besar dan tinggi, khas art deco. Sayang, “Tak banyak catatan tentangnya, foto pun kami tak punya,”mata  Karin menerawang, jauh.

Hotel Sedona

Entah, apa yang menjadi pertimbangan.  Pemerintah setempat, bersepakat ‘mencabut nyawa’ satu cagar budaya-nya. Hotel Pesanggrahan, tak hanya mereka ubah namanya melainkan pula merobohkan gedungnya, tubuh serta jiwanya. 1996, ia disulap jadi gedung berlantai sebelas, termasuk top floor, berwajah mentereng nan glamour.  Namanya berganti jadi Hotel Sedona. “Sedona adalah group bisnis hotel multi-internasional, berbasis di Singapura,” Karin melanjutkan ceritanya. Sebagian sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Povinsi Sulawesi Selatan.  Tak pelak, Hotel Sedona kala itu menjadi primadona melebihi hotel-hotel lainnya yang ada di Makassar. Para pelancong yang masuk kota Makassar merasa tak afdol jika tidak stay di situ, satu –dua malam. Atau, datang berkunjung sekadar menikmati kemolekannya.

Hotel Imperial Arya Duta

Tujuh tahun berselang,  tepatnya 2003. Kompetisi usaha properti di Makassar, termasuk hotel makin marak saja. Sedona Group, lalu berhenti. Diambilalih oleh Lippo Group. Di bawah kepemilikan perusahaan multi-nasional ini, nama Sedona pun mengkuti jejak Pesanggrahan. Pergi dan tak kembali lagi. Sedona pun, berganti nama. Imperial Arya Duta, nama penggantinya.   “Sejak saat itu, Imperial Arya Duta diklaim sebagai hotel terbesar di Kawasan Timur Indonesia,” tambah Karin yang memulai karir hotelnya di Aston Ketapang City Hotel, Kalimantan Barat, sebagai Executive Secretary, 2010.

Hotel Arya Duta

2008, hotel Imperial Arya Duta menemukan momentumnya. Momentum di mana enterprenur lokal mulai menjadi tuan rumah di kampung halamannya sendiri. Sebuah perusahaan lokal berskala internasional mengambil alih kepemilikan hotel tersebut. Bosowa Group, kini adalah pengendali sepenuhnya. Dan, kata “imperial” yang beraroma koloni dilenyapkan. Tinggal lah kini, Arya Duta. Di 20 tahun usianya, Arya Duta Makasar bersolek seiring permintaan pasar  yang makin beragam.

President Suite, " Presiden SBY pernah nginap disini..."

President Suite, ” Presiden SBY pernah nginap disini…”

Dengan jumlah kamar 224, ia menempatkan satu kamar jenis President Suite, di lantai sembilan. Dari arah kamar ini, sudut pandang kita ke arah pantai losari sangat luas, juga lebar. Arah hadap hotel yang sengaja dirancang miring bersudut 15 derajat, tepat ke arah barat memungkinkan kita menikmati panorama sunset secara utuh, tanpa halangan sedikit pun. Apa lagi, setelah reklamasi pantai losari. Seperti  layaknya president suite kebanyakan, fasilitasnya sangat lengkap. Ruang tamu, makan, mini kitchen, serta dua kamar mandi terpisah. Khusus untuk breakfast, cocktail hours dan afternoon tea  tersedia tempat di lantai 10, gelarnya Executive Lounge. “Tamu yang pernah menggunakannya, antara lain presiden SBY, Megawati, Presiden Kamboja, Dubes As dan banyak nama penting lainnya,” papar Karin.

Selain ruang lobi yang amat lapang dan familiar, Arya Duta sejak lama identik dengan karakter lounge-nya. Le Bar Atelier, saban hari menjelang senja hingga malam menjemput,  menampilkan live-music, seorang memainkan grand piano, berduet dengan  seorang vocalis. Boleh jadi, lahan tempat kongkow para sosialita ini, adalah salah satu sudut halaman depan gedung bersejarah seratusan tahun silam itu.  Oh, Arja Doeta, riwajatmoe doeloe….

She slipped into the silence of my dreams again last night

Wandering from room to room, she’s turning on each light

Her laughter spills like water from the river to the sea

And I’m swept away from sadness, clinging to her memory

Sweet memories, sweet memories

[Sweet Memories, Andy Williams, 1967]

 

Hotel Aryaduta Makassar

Jl. Somba Opu No. 297
Makassar 90111, South Sulawesi, Indonesia
T. +62 411 870 555 F. +62 411 870 222
E-mail.
info.makassar@aryaduta.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *