Cap Go Meh Dulu dan Kini

Cap Go Meh Dulu dan Kini

2
449
0
Sunday, 28 February 2016
Art & Culture

Iwan R. Rachman – Langitku Networks

Hari ke-15 di Hari Raya Imlek, warga  Tionghoa Makassar kembali merayakan Cap Go Meh, bertepatan dengan 8 Februari 2016. Digelar sebagai pesta budaya, tradisi dan religi sekaligus sebagai ajang membuka diri dan identitas.

Menurut penanggalan Imlek, etnis Tionghoa di Indonesia merayakan hari Cap Go Meh setiap tanggal 15 di awal tahun, sekarang memasuki tahun ke 2567. Kata Cap Go Meh sendiri berasal dari dialek Hokkian, yakni Cap Go berarti “lima belas” dan Meh adalah “malam”. Maksudnya, malam ke-15, di awal tahun.  Ini berarti, masa perayaan tahun baru Imlek berlangsung selama 15 hari.

cap go2

Shaifuddin Bahrun, pemerhati budaya Tionghoa, menyebutkan bahwa perayaan Cap Go Meh, mempunyai asal-usul yang diceritakan dari mulut ke mulut. Semacam legenda, berdasarkan buku dengan beragam versi.

Cap Go Meh, panggung ekspresi masyarakat Tionghoa”

“Secara religius, umat penganut Taoisme, Cap Go Meh dikenal sebagai San Yuan. Maksudnya, hari lahir Shang Yuan Thian Kuan atau Dewa Langit yang memberikan karunia pada manusia,” jelas Shaifuddin kepada langitkuradio.com, di Makassar.

Karena itu, lanjutnya, warga Tionghoa melakukan sembahyang syukuran, arak-arakan, memasang lampion serta atraksi kesenian rakyat di malam hari. Perayaan tersebut berlanjut secara turun-temurun hingga sekarang dan diperingati oleh masyarakat Tionghoa sebagai hari raya religius umat Taoisme, Budhhis dan Konghucu. Termasuk warga Tionghoa yang bermukim di Makassar.

Lebih dari sekedar pesta budaya tradisional, Cap Go Meh menurut Shaifuddin adalah ajang membuka diri dan identitas. “Panggung ekspresi warga Tionghoa di Indonesia” imbuhnya.

Perayaan Cap go Meh di Makassar diadakan secara rutin setiap setahun sekali. Pada hari perayaan 2016 ini, daerah pecinan Makassar (Jl Sulawesi) ditutup untuk kendaraan sejak jam 10.00 pagi, namun prosesi perarakan, biasa disebut Karnival Budaya Nusantara, dimulai jam 14.00.  Acara berlangsung hingga malam hari, layaknya pasar malam.

Arak-arakan Cap Go Meh diawali dengan rombongan Bhineka Tunggal Ika. Rombongan terdiri dari kumpulan tokoh agama dan masyarakat serta para Dara dan Daeng Makassar. Lalu, ada pula Kelenteng Kwang Kong, masyarakat Kajang dari Bulukumba, dan Vihara Dharma Loka. Tak ketinggalan kelompok adat Aluk Tudolo dari Tana Toraja, kelompok adat Kabupaten Bone, Kelenteng Pan Ku Ong dari Galesong Takalar. Karnaval  berakhir menjelang senja tiba.

Semuanya demi membuka diri dan identitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *